Kamis, 19 Maret 2009

PRO KONTRA FINGERPRINT TEST

Oleh : Drs. H. Teguh Sunaryo
Direktur DMI Primagama


INTRODUCTION.
Sudah menjadi hal yang wajar bila ada barang baru pasti ada pro dan kontra. Terlebih produk itu bersifat padat teknologi dan padat harga (mahal). Terhadap cara dan tahap pembelian komputer saja terkadang didalam suatu keluarga masih banyak yang pro dan kontra. Mau pilih merek yang ternama harganya mahal, mau beli yang murah kok takut tidak berkualitas, mau beli merek yang baru belum teruji, sementara mau beli merek yang lama kok model dan serinya sudah tidak lagi up to date, mau beli yang gress dan up to date juga mahal (bahkan cara menggunakannya juga sudah menggunakan cara yang baru yang mungkin kita masih ragu dan belum familier). Setelah mau beli, juga masih pikir-pikir. Beli yang portable berupa laptop yang bisa dijinjing kemana-mana atau mau beli yang desktop yang tidak bisa diangkat kemana-mana.

Yang menjadi tidak wajar adalah bila pro dan kontra itu sudah menjurus kepada debat kusir dan emosi yang tidak menunjukkan tingkat kedewasaan yang memadai. Sebagian dari kita masih sangat sekuler saat berdebat karena belum mampu memaknai dan mengamalkan prinsip ”perbedaan pendapat adalah rahmat”, yang pintar menjadi sombong karena merasa paling tahu sementara yang pas-pasan merasa perlu juga untuk unjuk kebolehan seberapa bekal yang dimilikinya . Sehingga keduanya merasa paling benar sekaligus perlu manyalahkan pihak lain. Kalau kondisinya sudah seperti itu pastilah pilihan kata-kata yang ”tidak pantas dan tidak santun” akan keluar dengan entengnya. Dan saya yakin ketika waktu kemudian berlalu mereka akan menertawai diri mereka masing-masing (atau bahkan masih saling mengolok dan mempermalukan pihak lain).

Saya berpendapat pada akhirnya kita akan tetap menjadi ”diri kita sendiri-sendiri” dan apapun keputusannya kitalah yang harus memutuskan sendiri sekaligus siap menerima apapun konsekuensinya (tertinggal atau maju, terdepan atau terbelakang, kuno atau modern, paham teknologi atau gagap teknologi, menjadi orang yang cepat atau menjadi orang yang lambat, berpikir menjadi positif atau berpikir menjadi negatif).

METODA MENGENALI BAKAT.
Bakat adalah kemampuan bawaan / alamiah yang merupakan potensi (potential ability) yang masih perlu dikembangkan atau dilatih agar terwujud (sumber Alex Sobur, 2003, hal 180). Sementara menurut Bannet (1952) Bakat adalah kondisi atau rangkaian karakteristik yang dipandang sebagai gejala kemampuan individu untuk memperoleh pengetahuan, ketrampilan atau serangkaian respon melalui latihan-latihan.

Ada tiga tahapan kemajuan ilmu pengetahuan untuk mengenali bakat seseorang. Pertama, adalah pengenalan bakat berbasis pengalaman (traditional experience). Ini adalah upaya orangtua untuk mengenali bakat anaknya sejak dalam kandungan sampai ia dewasa, sejauh masih hidup berdampingan dan bersama-sama dengan kedua orangtuanya. Keunggulannya sangat akurat, tetapi bisa diketahui setelah anaknya menjadi orang yang sukses atau menjadi orang yang gagal. Ketika sukses orangtuanya akan memberikan penilaian ”benar bakat anak saya sungguh sesuai dengan apa yang saya duga”, sementara bila gagal orangtua akan mengatakan ”sudah saya duga karena kehidupan anak saya tidak sesuai dengan bakat yang dimilikinya”. Anehnya apapun pernyataannya keduanya diberikan saat anak sudah terlanjur sukses atau terlanjur gagal, sehingga nampak nyata bahwa perjalanan kehidupan yang seperti itu tidak ada aspek perencanaan ”hidup tidak bay design” tidak ada planning dan sangat alamiah. Kelemahan model pengenalan bakat berbasis pengalaman adalah membutuhkan waktu yang sangat lama, tidak efisien dan tidak ada pengakuan baik legal formal maupun sosial psikologis dari pihak luar. Orangtua mengenali bakat anaknya dianggap sudah wajar dan bersifat subyektif, alamaiah dan sangat personal (sulit diduplikasi dan sulit diaplikasikan bagi anak yang lainnya). Kedua, adalah pengenalan bakat berbasis tes (wawancara maupun tertulis). Keunggulan metode ini adalah bisa diaplikasikan kepada siapapun sejauh peserta tes bisa membaca, menulis dan berhitung. Bisa menggambar dan berbicara. Tetapi bagi anak usia balita maupun batita alat uji tersebut belum bisa digunakan. Pertanyaannya adalah apakah anak balita dan batita tidak perlu dikenali bakatnya ? Apakah orang dewasa yang tidak bisa calistung, tidak bisa menggambar atau tidak bisa bicara itu berarti tidak memili bakat ? berarti harus ada alat jenis lain yang bisa digunakan untuk mengenali bakat mereka itu. Kelemahan alat tes tersebut juga sangat bergantung pada kondisi kejiwaan seseorang pada saat di tes. Pada kondisi sedih dan sakit tentu hasilnya akan rendah. Pada kondisi gembira dan sehat tentu hasilnya akan baik. Sedangkan pada kondisi “dipersiapkan oleh sang pakar” hasil tesnyanya akan semakin sempurna walau sesungguhnya masih dalam kondisi tidak maksimal. Kesimpulannya adalah mudah berubah-ubah dan tidak stabil. Ketiga, adalah pengenalan bakat berbasis deteksi dengan teknologi. Alat ini mampu menggenapi dan menyempurnakan apa yang menjadi kekurangan pada tahap pengenalan bakat yang pertama maupun yang kedua. Dengan deteksi teknologi, pengenalan bakat yang membutuhkan waktu yang sangat lama (bertahun-tahun) akan menjadi lebih cepat. Yang berubah-ubah menjadi lebih baku dan permanen (karena bakat bersifat alamiah dan bawaan). Balita maupun dewasa yang tidak bisa calistung, tidak bisa menggambar dan tidak bisa bicara, tetap bisa dideteksi bakat alamaiahnya secara ilmiah. Anak autis atau anak yang berkebutuhan khusus lainnya juga bisa dideteksi dengan alat ini. Caranya adalah dengan menganalisa kesepuluh sidik jari tangan melalui scaner, kemudian diproses melalui sistem komputer yang handal dan akan menghasilkan peta potensi diri (bakat) otak kanan atau otak kiri serta kedelapan kecerdasan versi Howard Gardner (Multiple Intelligence). Bagi orang tertentu, katanya kelemahan alat ini adalah relatif cukup mahal. Tetapi bagi sebagian yang lain mengatakan bahwa harga yang ditawarkan adalah sangat sebanding dengan manfaat penting yang akan diterima, apalagi untuk kepentingan pemilihan pendidikan dan karir bagi masa depan anak-anak dimana kompetisi hidup semakin ketat dan kompleks.

BAKAT DAN PENDIDIKAN ANAK-ANAK.
Ada dua cara pengembangan bakat menuju capaian prestasi puncak yang diinginkan. Pertama, adalah melalui proses edukasi personal, yaitu tingginya komitmen diri untuk mengenali bakat, kemudian tumbuhkan minat yang sesuai dengan bakatnya, berikutnya adalah menjagai sikap agar tetap sungguh-sungguh dan profesional untuk konsisten pada jalur yang telah ditetapkan. Ada tiga variabel pada model pertama ini yaitu : Bakat, Minat dan Sikap. Dengan komitmen dan konsistensi yang tinggi maka kecenderungan pencapaian prestasi puncak anak akan relatif mudah diraih. Ada sebagian kita yang masih memiliki persepsi keliru bahwa minat anak kita sering dianggap bakat. Minat dan bakat adalah sesuatu yang berbeda. Kedua, adalah melalui proses edukasi kultural, yaitu mengenali bakat terlebih dahulu, kemudian mencari pendidikan yang sesuai, berikutnya adalah menetapkan lingkungan yang mendukung atas bakat dan pendidikan yang kita pilih. Ada tiga variabel pada model yang kedua ini yaitu : Bakat, Pendidikan dan Lingkungan. Dengan komitmen dan konsistensi yang tinggi maka kecenderungan pencapaian prestasi puncak anak akan relatif mudah diraih. Dari kedua model edukasi tersebut dapat disimpulkan betapa pentingnya mengenali bakat anak-anak kita terlebih dahulu sebelum melangkah pada proses edukasi yang berikutnya. Memilih pendidikan itu penting, tetapi mengenali bakat terlebih dahulu itu jauh lebih penting. Semakin dekat bakat dengan cita-cita maka semakin mudah untuk meraihnya.

BAKAT DAN KARIR / PERSIAPAN PENSIUN.
Bagi anda yang ingin menjadi pegawai dimanapun anda akan bekerja, maka potensi otak kiri harus lebih dominan dari pada potensi otak kanan. Dan bagi anda yang akan mencoba menjadi pengusaha, potensi otak kanan harus lebih dominan bila dibandingkan dengan otak kiri. Dan itu bisa diketahui melalui deteksi dermatoglyphics multiple intelligence (DMI). Anda tidak harus mengubah potensi anda, tetapi anda tinggal mengembangkan saja apa yang sudah menjadi potensi unggulan anda. Mengembangkan bakat unggulan akan relatif lebih mudah bila dibandingkan dengan mengembangkan bakat lemah anda. Sekali lagi bakat jangan dilawan (diubah) tetapi dikembangkan saja sesuai dengan bakat unggulan yang telah tersedia dan telah dikenali. Jenis karir dan bidang usaha bisa dilihat dan bisa dipilih melalui kedelapan kecerdasan yang ada.

Bagi anda yang akan memasuki usia pensiun pun demikian, anda harus memilih jenis aktifitas yang sesuai dengan bakat anda. Dengan demikian hidup lebih bisa dinikmati dan dikembangkan. Kesehatan dan kesejahteraan lahir dan batin akan lebih mudah untuk diwujudkan dan itu semua membutuhkan suatu ikhtiar yang tidak reguler. Kalau anda ingin hasil yang luar biasa maka jangan melakukan dengan cara yang biasa.

Apapun pilihan anda, mengenali bakat itu jauh lebih baik dari pada tidak kenal sama sekali. Peduli pada diri sendiri secara optimal adalah bagian dari persiapan menuju masa depan yang jauh lebih baik. Dan kesuksesan itu akan datang dengan dipersiapkan sekaligus diperjuangkan, tentu dengan ijin Tuhan YME melalui kemajuan perkembangan ilmu dan teknologi.

Anda berminat silahkan mencoba selagi masih ada kesempatan (sekarang kondisi anda masih sehat, masih cukup rezeki, punya masa depan dan sementara pelayanan kami pun masih tersedia). Bila anda belum berminat atau bahkan tidak akan pernah berminat sekalipun, toh selama ini kita tidak pernah punya masalah dan tidak pernah terlibat konflik yang merusak tali silaturahmi. Apapun pilihan anda, kami menghargai, menghormati dan menghaturkan banyak terimakasih, Semoga Allah senantiasa memberikan yang terbaik bagi kita semua. Amiin

Persembahan DMI PRIMAGAMA INDONESIA
(Under Lisence Brainy Lab. PTE. LTD. Singapore)

Hubungi
Kantor Pusat :
1. Afi : 081 325 157 222 (Maaf belum melayani SMS)
2. Teguh : 085 643 38 38 38 (Maaf belum melayani SMS)

Kantor Cabang :
1. Bukhasan : 081334666969
2. Tasirin : 08123460955
3. Ronie : 085855765570

Info Lebih Lanjut : www.brainylab.com dan www.dmiprimagama.com

SETIAP ORANG PERLU KENAL BAKATNYA

Oleh : Drs. H. Teguh Sunaryo
Direktur DMI Primagama


INTRODUCTION. Jangan memberikan pelajaran menggambar kepada orang yang buta. Maka sehebat-hebatnya kurikulum serta guru yang akan mengajarnya pasti akan sia-sia dan tidak berguna. Jangan mengajarkan seni berpidato kepada orang yang tidak punya lidah. Itupun akan menjadi sia-sia belaka. Banyak orang disekitar kita yang tidak mau didiagnosa kesehatannya oleh seorang dokter karena ia takut akan ketahuan berpenyakit, biarlah saya tidak tahu sakit saya, toh kalau tiba-tiba saya sakit maka saya akan datang juga pada seorang dokter. Bila datangnya tidak terlambat tidak begitu bermasalah. Anehnya sebagian besar kita akan memborong semua obat agar penyakitnya segera cepat sembuh. Pun demikian terhadap putra-putri kita – bahkan tidak jarang terhadap kita sendiri juga – bahwa kita sibuk mencarikan sekolahan anak-anak kita tanpa mengetahui apa sebenarnya yang menjadi bakat anak-anak kita. Nampaknya ibarat sebuah perjalanan yang sangat jauh, kita akan menjadi lebih baik dan lebih tenang bila kita sudah menyiapkan sebuah ”peta kota perjalanan kita”. Demikian juga dengan perjalanan pendidikan yang akan kita pilih serta akan kita lalui guna meraih prestasi masa depan kita. Nampaknya kita juga memerlukan ”peta potensi diri” yang harus dicarikan warna pendidikan yang sesuai. Tugas kita adalah mengenal bakat, kemudian meyakini dan mengembangkannya yang jelas-jelas sudah diketahui mana yang menonjol. Mengembangkan bakat yang menonjol akan lebih mudah dari pada mengembangkan bakat yang lemah. Apalagi mengubah bakat alaminya (atau beralih pada hal lain yang bukan menjadi bakatnya). Semakin dekat bakat dengan cita-cita maka semakin mudah untuk meraihnya. Semakin dekat bakat dengan pendidikan yang dipilihnya maka semakin mudah meraih prestasi akademik. Semakin dekat bakat dengan minat maka semakin mudah menikmati hidup ini. (walau ada sebagian kita menyamakan pengertian bakat dengan minat)

REVOLUSI EFISIENSI. Sebagaimana penemuan golongan darah dan lampu listrik pada awal-awalnya. Pun demikian dengan jenis penemuan yang lainnya – termasuk penemuan tes pengenalan bakat DMI – banyak pihak yang masih meragukan kegunaannya. Ternyata pada perkembangan berikutnya baru bisa dirasakan betapa besarnya pengaruh identifikasi golongan darah terhadap pentingnya transfusi darah bagi pasien yang membutuhkannya. Bayangkan bila sampai sekarang penggolongan darah itu belum diakui. Bagaimana nasib si pasien itu ? Juga bagaimana dahsyatnya pengaruh penemuan listrik yang kemudian diikuti dengan penemuan lampu pijar, yang kemudian diikuti dengan produk-produk yang lainnya. Apa yang akan terjadi bila tidak ada lampu listrik. Semua akan gelap bukan ? Dan coba anda pikirkan apa yang akan terjadi bila kita dapat mengetahui apa yang menjadi bakat alami kita ? Setelah itu kita belajar ilmu pengetahuan dan teknologi yang dekat dengan bakat kita itu. Tentu semuanya akan menjadi lebih fokus, efisien, terlebih bila kita tidak terlambat untuk menjawab dan menyambutnya. Pendek kata kenal bakat sejak dini, itu akan lebih baik bandingkan bila kita tidak kenal sama sekali.
Persembahan DMI PRIMAGAMA INDONESIA
(Under Lisence Brainy Lab. PTE. LTD. Singapore)

Hubungi
Kantor Pusat :
1. Afi : 081 325 157 222 (Maaf belum melayani SMS)
2. Teguh : 085 643 38 38 38 (Maaf belum melayani SMS)

Kantor Cabang :
1. Bukhasan : 085868001133
2. Tasirin : 08123460955
3. Ronie : 081336740830

Info Lebih Lanjut : www.brainylab.com dan www.dmiprimagama.com

Senin, 16 Maret 2009

R.E.C PRIMAGAMA

(Oleh Teguh Sunaryo, Staff Ahli GM Primagama dan Direktur DMI Indonesia)

Ketika sebagian besar lembaga pendidikan luar sekolah atau lembaga bimbingan belajar mengedepankan cara-cara praktis menyelesaikan soal-soal sulit dengan cara yang mudah, dengan apapun namanya, maka Primagama sebagai lembaga yang memiliki jaringan paling besar ini mengambil langkah mengembangkan strategi pembelajarannya dengan konsep REC (Remedial, Enrichment, Consulting). Konsep REC lebih luas dan sangat visioner. Ia tidak sekedar bicara cara praktis mengerjakan soal-soal pelajaran saja, tetapi juga bicara mengenai konsep hidup dan konsep kemandirian pasca pembelajaran di sekolah. REC menjadi semakin dibutuhkan ketika kurikulum di sekolah selalu berubah-ubah, kompetisi hidup semakin kompleks dan tingkat ketidakpastian semakin tinggi.

Remedial adalah program pengulangan pelajaran yang ada di sekolah. Bentuknya adalah melanjutkan pelajaran teori yang ada di sekolah dan menyelesaikan PR atau soal latihan secara cepat dan benar (yang di Primagama disebut Smart Solution). Program ini sangat berguna bagi adik-adik yang mengalami kesulitan belajar di sekolah. Sedangkan bagi adik-adik yang tidak mengalami kesulitan belajar di sekolah bisa menggunakan Program Enrichment. Enrichment adalah Program yang memberikan pengayaan tentang bentuk-bentuk soal pada level yang paling sulit. Sulit karena tuntutan tingkat pemahamannya atau sulit karena landasan teorinya memang belum ada di kurikulum di sekolah (atau belum pernah didapatkan). Ada dua tipe soal dalam proses pembelajaran. Pertama adalah tipe soal evaluasi. Ini adalah soal-soal yang digunakan pada saat evalausi belajar seperti moment ulangan kenaikan kelas, ulangan semesteran, dan ujian kelulusan pada jenjang kelas akhir (kelas 6, kelas 9, kelas 12). Kedua adalah tipe soal seleksi. Tipe soal seperti ini sering digunakan saat siswa akan mengikuti ujian seleksi masuk SMA atau masuk ke Perguruan Tinggi. Ada soal non kognisi seperti kecerdasan emosi, leadership, dll. Program Enrichment di Primagama meliputi soal kognisi berkadar kesulitan yang tinggi dan soal non kognisi yang tidak diajarkan secara memadai di sekolah-sekolah selama ini. Consulting adalah program layanan konsultasi meliputi layanan kesulitan belajar dalam aspek akademik maupun dalam aspek psikologis. Dalam layanan yang berdimensi psikologis juga tersedia tentang pengenalan bakat dan potensi diri lainnya (melalui DMI Assessment). Tidak jarang anak kesulitan belajar juga disebabkan oleh perbedaan yang jauh antara pelajaran yang diberikan dengan bakat yang dimilikinya, antara bakat dengan minat yang dipunyainya, antara karakter gurunya (pembimbingnya) dengan siswanya, antara kepekaan belajar siswanya dengan gurunya, dll.

Dengan konsep REC itulah Primagama tidak sekedar menjadi lembaga bimbingan tes saja, tetapi mampu merubah diri menjadi lembaga pendamping belajar siswa dalam konteks yang lebih luas. Kompetisi ke depan semakin kompleks, maka dibutuhkan cara-cara yang kreatif dalam belajar dan pembelajaran. Dengan REC Primagama akan memberikan yang terbaik bagi para siswanya !

Minggu, 15 Maret 2009

AYO KE PRIMAGAMA LUMAJANG

Ayo bergabung ke Primagama Lumajang.................maaf blog ini masih dalam perbaikan

Sabtu, 14 Maret 2009

SELAMAT DATANG DI PRIMAGAMA LUMAJANG